WARGA KESAL DAN KECEWA KARENA DI SAAT AKAN DI SIDANG, SALAH SATU APARATUR DESA YANG DIDUGA BERBUAT MESUM TIDAK HADIR

Spread the love
Share

Global Hukum Indonesia, Tanjab Timur – Warga Desa Pematang Rahim, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi pada Hari Jum’at (8/2/2019) beramai-ramai ke Aula RT. 12 Dusun Teladan ingin mengikuti dan mengetahui hasil keputusan yang dibuat oleh tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga adat dan pemerintah desa kepada salah satu aparatur desa (RT) yang berinisial “RS” yang diduga telah melakukan perbuatan yang memalukan (mesum) dengan salah satu gadis (MH) warga RT. 10 Dusun Teladan pada tanggal 3/2/2019 yang lalu di rumah saudari M,H yang tinggal sendirian dirumah karena keluarganya sedang tidak ada di rumah.

Menurut saksi mata AMIR menjelaskan kejadianny “pada hari minggu kemarin tanggal 3/2/2019 malam, saya melihat saudara RS datang kerumah gadis M,H sekitar jam 10:00 wib malam, dan saya melihat langsung mereka sedang asyik bercumbu, dan tak lama kemudian, mereka berdua pun masuk kedalam kamar, karena saya menganggap hal itu sudah tak wajar, apalagi sang lelaki itu sudah tua dan memiliki istri, sedangkan si gadis masih sangat muda. maka saya pun langsung mendobrak pintu rumah dan kamarnya, namun sang lelaki tidak terima, dan malam itu sempat terjadi perkelahian antara kami dan tangan saya pun digigit olehnya,

Dan setelah itu saya pun langsung menyampaikan kepada warga dan melaporkan kepada pemerintah desa dan kepolisian, karena status sang pria itu adalah sebagai RT di RT. 10 atau aparatur desa. Dan hasil dari malam itu belum ada tindak lanjutnya dan kamipun meminta hal ini supaya segera ada keputusan nya kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lembaga adat”, tegas Amir.

Dan disisi lain Ketua Lembaga Adat Pak Umar mengatakan kepada awak medi “kami sudah menanggapi apa yang di sampaikan oleh saudara Amir dan untuk menindak lanjutinya kami akan adakan pertemuan dan melakukan persidangan secara terbuka, dan orang di maksud juga sudah kami panggil secara resmi melalui surat, pada Hari Jum’at jam 04:00 wib sore agar hadir. Namun sampai saat ini orang tersebut tidak hadir, apakah beliau sengaja atau tidak kami juga tidak tau, bahkan warga sekitarpun kita libatkan dan kita undang supaya ini disaksikan, tetapi kalau orangnya tidak ada apa yang kami perbuat?..harapan kami untuk kedepannya agar ini menjadi pembelajaran dan contoh yang tidak baik kepada semua warga, dan hal seperti ini harus di kenakan sangsi berupa cuci kampung”, tegasnya.

Sementara Kepala Desa Pematang Rahim Syamsuri mengatakan “kami juga sedang menindak lanjutinya, namun ini masih dalam tahapan proses, namun ini di luar dari kontek adat, dan saya juga sangat menyayangkan hal ini, dan saya tidak membenarkan atas apa yang di perbuat oleh beliau, baik menurut agama, hukum dan adat, kalau salah tetap kita salahkan dan kami juga tidak ada mau menutupi. Tetapi kalau masalah beliau tidak hadir kami juga tidak mengerti, namun seandainyapun beliau ada!..kita juga tidak dapat menjamin akan tidak terjadi kerusuhan antara kedua belah pihak dan di tambah warga yang ramai seperti ini. Dan untuk itu kami bekerja sama dengan lembaga adat dan tokoh akan secepatnya menyelesaikan ini”, ucapnya.

Karena kecewa dan kesal, warga sempat teriak-teriak dan berkata-kata yang kurang sopan. Salah seorang ibu-ibu meneriakkan “hati-hati anak gadis kita nanti di anu perai…..dan sebahagian mengatakan “kita arak aja orang itu supaya jangan kebiasaan karena dia sudah melakukan hal ini untuk ke dua kalinya dan dia jadi ketagihan…..atau memang kampung kita ini bebas…..tidak ada hukum…mentang-mentang RT, coba kalau saja pelakunya bukan RT?..kalau yang sudah-sudah selalu saja di kenakan denda, apakah ini karena RT aman-aman saja?..dia harus di berikan efek jera”, teriaknya. (Edi H Sembiring/Hamdi zakaria)

Tinggalkan Balasan

Share
Share