Bank Sentral Singapura Pertahankan Kebijakan Moneter

Spread the love
Share

Global Hukum Indonesia, Singapura – Bank Sentral Singapura akan mempertahankan kebijakan moneternya tidak berubah akibat melambannya pertumbuhan ekonomi, baru baru ini. Menyusul dua kali kebijakan pengetatan tahun lalu, Otorita Moneter Singapura (MAS) – yang menggunakan nilai tukar kurs sebagai instrumen kebjakan utamanya – mempertahankan kecuraman dan keluasan band mata uangnya tidak berubah, serta level pemusatannya.

Konsisten dengan jalur apresiasi yang moderat dan gradual dari band mata uang. Sebanyak 20 dari 22 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memprediksikan langkah tersebut, dengan predisksi hanya dua pengetatan.

“Pertumbuhan ekonomi Singapura menurun, yang membuat tingkat output mendekati potensinya yang mendasar. Walau ada kenaikan di dalam biaya perburuhan, tekanan inflasi sedang-sedang saja dan sebaiknya bisa diatasi. Dolar Singapura melemah setelah keputusan tersebut, turun 0,1% menjadi S$1,3580 terhadap mata uang AS. Posisinya tidak berubah S$1,3562 sejak pukul 9:56 Jumat,” katanya.

Retorika pertumbuhan dan inflasi cukup lumayan,” kata Selena Ling, ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp. Di Singapura. Setelah pengetatan tahun lalu “mereka dalam mode jeda kini.

Bank-bank sentral global mengambil langkah tidak disangka ke arah kebijakan yang jauh lebih lunak dalam 2019, dimulai dengan perubahan di dalam nada pernyataan dari bank sentral AS, Fed.

Porkas pertumbuhan dunia berulangkali dirubah turun, termasuk oleh Dana Moneter Internasional (IMF) pekan ini, karena ketegangan perdagangan AS-Tiongkok masih meningkat dan tuntutan Tiongkokpun berkurang. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan di dalam negara ekonomi yang menghandalkan ekspor itu akan melambat menjadi hanya di bawah kisaran midpoint 1,5 sampai 3,5% setelah 3,2% dalam 2018.

Laporan terpisah Jumat menunjukkan PDB tumbuh 1,3% dalam kuartal pertama dari setahun lalu, lebih rendah dari yang diproyeksikan para ekonom. MAS melihat pertumbuhan. Sedikit di bawah potensi tahun ini, setelah dua tahun berada di atas trend.

Menteri Keuangan Heng Swee Keat mengatakan kepada Bloomberg pekan lalu bahwa ekonomi Asia Tenggara akan mengalami pertumbuhan cukup baik tahun ini dan tahun depan. Bank sentral menurunkan kisaran porkas inflasi inti untuk tahun ini menjadi 1% sampai 2% dari 1,5% sampai 2,0% sebelumnya, terutama disebabkan turunnya biaya listrik. Dalam Februari, bank sentral menurunkan proyeksi inflasi inti menjadi 0,5% sampai 1,5%.

Ekonom Bloomberg, Tamara Henderson mengatakan, Otorita Moneter Singapura melakukan jeda siklus pengetatannya, karena mengetahui bahwa pertumbuhan global lebih lemah dari perkiraan dan adanya ketidak-pastian signifikan untuk perkiraan jangka pendek. Terkait porkas terakhir bank sentral terhadap masih adanya risiko penurunan.

“Menurut kami MAS juga akan mempertahankan kebijakannya tidak berubah dalam rapatnya yang berikut bulan Oktober,” kata Tamara Henderson. Nada dovish MAS menunjukkan pihaknya kemungkinan akan memperpanjang masa jeda terhadap keputusan kebijakan Oktober, kata Mitul Kotecha, ahli strategi emerging-market di TD Securities di Singapura. Karena penurunan inflasi dan berkurangnya risiko terhadap inflasi, menurut kami MAS akan mengalami kesulitan untuk melakukan pengetatan lebih jauh dalam rapatnya yang berikut hingga pada Oktober, tuturnya sesuai dilansir dari Analisa. (KRO/RD/ANS/ms)

Tinggalkan Balasan

Share
Share